Watashi to Kanojo no Synesthesia

Sebuah cerita pendek yuri tentang saling ketergantungan dua orang gadis untuk berjuang menghadapi synesthesia yang mereka derita.

Synesthesia adalah kelainan panca indra dimana rangsangan pada satu indra mempengaruhi indra lain. Seperti mendengar seuatu lalu muncul warna di pikiran, atau mendengar sesuatu lalu merasakan suatu rasa.

Raw: https://januvatl.tumblr.com/post/157683162402/watashi-to-kanojo-no-synesthesia

English version: http://ncode.syosetu.com/n3895ds/


Watashi to Kanojo no Synesthesia


Uugh…”

Potsun potsun.

Kotsun kotsun.

Suara itu bergama dalam ruangan seperti hendak menimbulkan kekacauan.

Aku benci hujan…

Aku tidak pernah bisa menyukai hujan.

Irama dari tetesan air hujan selalu memberiku perasaan seperti keberadaanku pelan-pelam menghilang tergerus oleh air hujan. Terutama di saat seperti ini, dengan suara hujan yang bergema begitu keras di dalam ruangan. Aku sangat membencinya.

Nn…”

Di hari seperi ini, Aku akan dengan senang hati menyembunyikan diri didalam gulungan futon. Memjamkan mata dalam kegelapan dan memfokuskan diri pada aroma bantal.

Futon yang tebal ampuh menghalangi suara, memejamkan mata agar Aku tidak melihat warna-warna yang bermunculan, dan menenggelamkan diri dalam bau-bauan untuk melupakan nada-nada hujan.

Dengan berlindung di dalam kapsul futon ini, Aku bertahan dari kehilangan jati diri. Kalau tidak, aku tidak bisa bertahan.

Nyahaa…”

Dibuai oleh kenyamanan, secara spontan Aku menghela nafas.

Aah… hangatnya…

Menyerah pada kehangatan yang menyeluruh, Aku hampir saja terlena dalam tidur waktu kurasakan tubuhku tengah menerima guncangan dari luar. Hal ini benar-benar perbuatan yang menghalangiku untuk tidur. Dan halangan ini, sebagai bonus, datang dengan suara yang keras.

Apa yang sedang kau lakukan? Fugaku Kisara-chan?”

Kenapa nama lengkap, Rinne Kokone-chan?”

Enggak ada alasan khusus sih. Tapi Kisara-chan, itu futon ku kan?”

Tentu aku tahu hal itu, itulah kenapa aku menikmatinya. Aromaku sendiri tidaklah menarik. Tapi Aroma Kokonoe enak sekali.

Lagi pula, suaranya masih saja lembut dan manis seperti biasanya. Ketika aku mendengar “suara oranye” miliknya, rasa kantuk selalu menyerangku.

“….khhh”

Ah Kisara-chan jangan tidur!”

Haa… kau music box pengantar tidur berjalan!!”

Apa maksudmu itu?”

Meski Aku tidak bisa melihat mukanya, dia pasti menunjukkan sebuah ekspresi sangat kebingungan.

Setelah sekian lama mengnalnya, Aku bisa tahu sejauh ini tanpa melihatnya secara langsung. Tapi karena beberapa alasan, aku juga tahu beberapa hal yang tidak ingin aku ketahui.

Alasan kenapa sekarang aku tidur… adalah karena Kokone ada di sini.”

Tolong jangan bilang hal ambigu dengan wajah seperti itu.”

Tidak ada bukti kalau aku membuat wajah seperti itu ketika aku ditutupi futon seperti ini.”

Aku sudah lama mengenalmu, Tentu saja kau tahu bagaimana ekspresimu saat ini.”

Cih. Sepertinya dia juga sama. Dengan suaranya dan goncangan yang semakin menjadi, membuat kantukku menghilang. Dengan malas aku keluar dari gulungan futon.

Saat cahaya yang menerangi ruangan mengembalikan pandanganku, Aku menyeringai.

Aaa…”

Dunia ini begitu ‘abu-abu’

Jam alarm dengan desain karakter yang sedang populer di kalangan para gadis sekarang, lemari pakaian berisi pakain dengan hiasan renda yang tak ada artinya, meja rias yang penuh dengan kosmetik, serta kontras dengan meja rias, meja belajar yang begitu rapi.

Segala sesuatu yang terrefleksikan oleh mataku terlihat hitam dan putih, sebuah dunia hitam putih.

Pemandangan yang tidak mengenakkan bukan?

Semuanya telah ditelan oleh hujan.

Dunia di hadapanku yang telah dihancurkan oleh warna abu-abu itu seolah-olah hendak mencabik-cabik diriku.

Selamat pagiii, Kisara-chan.”

Di dalam dunia yang abu-abu ini, hanya suara Kokonoe yang memiliki warna cerah.

Bibir lembut berwarna sakura, pandanganya yang lembut dan selalu terlihat mengantuk, serta senyuman yang manis dan lembut seperti permen kapas.

Rambut pirangnya yang tebal dengan pnajang melebihi pundaknya, bergetar seiring dia memiringkan kepala, seolah-olah menari.

Kulit yang halus, sikap yang ramah, tonjolan halus yang cukup terlihat di dada, serta pakaian dengan hiasan renda yang cantik.

Dari atas kebawah, dia adalah bishoujo yang sempurna. Kecantikan sempurna layaknya boneka prancis.

Gadis yang berada di hadapanku, lembut dan sangat cantik jauh berbeda denganku yang berkulit pucat, sikap yang buruk dan dada yang rata.

Perbedaan kefeminiman terlihat jelas. Dia berdiri diujung langit dengan kecantikannya yang tak tertandingi.

Tanpa perasaan iri, aku menjawabnya.

Selamat pagi Kokone… Ada apa?”

Itu yang ingin aku tanyakan… kenapa kau memakai futonku?” (TL note: Kokone menggunakan ‘Boku’ untuk menunjuk dirinya sendiri yang mana kurang feminim dibanding ‘watashhi’ yang diapakai Kisara dan wanita pada umumnya)

Aku kura kau sudah tahu… Aku tidak suka hujan. Karena itulah aku menggunakan futonmu untuk menutup penglihatan, pendengaran dan penciumanku.”

Sepertinya yang terakhir aku baru tahu… ehehe”

Senyumannya meleleh menjadi tawa.

Sebuah senyuman manis yang sepertinya ditambah banyak gula. Sebuah tawa hangat berwarna orange yang terdengar seperti kicauan burung.

“——Uhu…”

Kisara-chan!?”

Maaf aku sedikit pusing…”

…lagi?”

Orange yang bercampur dengan sedikit warna biru, hasil dari kekhawatiran yang ditambah dengan rasa takjub.

Suaranya” mewarai abu-abu yang ada, dan hal itu membuatku tenang. Namun pikiranku tidak bisa mengatasi perubahan keadaan yang tba-tiba, hal itu membuatku mual.

…Tubuh yang selalu merepotkan.

Kakiku tersandung namu Kokone menangkapku sehingga aku tidak jadi terjatuh.

Dalam keadaanku yang seperti itu, sambil berpikir bahwa rambut hitam yang masuk dalam pandanganku itu terlihat begitu suram, aku menggelengkan kepala.

Kau tidak apa-apa?”

Ya… terima kasih Kokone.”

Sambil mengucapkan kata-kata terima kasih, sebuah kaata muncul dalam pikiranku.

…’Synesthesia’.

Terpicunya indra yang berbeda dalam merespon sebuah rangsangan. Sebagai contoh, melihat warna merah dan saat merasakan sakit. Sebagai contoh, memakan sesuatu yang manis dan merasakan sesuatu yang bulat. Sebagai contoh —– mendengar suara hujan dan melihat warna abu-abu.

Terlalu banyak abu-abu.”

Diantara pengidap synesthesia lainnya, kasusku spasial. Karena sensitifitasnya yang ekstrim, sehingga membebani kejiwaanku.

Suara hujan, suara petir, bahkan suara manusia —– mereka menggeogoti hatiku, dengan pandangan dimataku.

Tipe synestesia dimana suara menimbulkan warna dikenal dengan ‘Chromesthesia’, meski biasanya para pengidapnya mempunyai kemampuan perfect pitch, Aku tidak mempunyai kemampuan itu.

Ini hanya Aku mendengar warna.

Ini hanya tidak nyaman.

Ini hanya seperti itu.

Kokone… bicara, lanjutkan… biarkan aku mendengar suaramu…”

Meminta, memohon padanya.

Hanya dia yang bisa aku andalkan sekarang.

Bahkan suaraku sendiri biru berlumpur… seolah-olah aku tenggelam.

Sambil menyatukan rambut dan aroma Kokone yang lembut dan memeluknya, aku memanggilnya.

Nee, Kokone… aku mohon…”

U-n… kalau kau beri rasa manis lagi, akan aku pikirkan.”

Fuyu!?”

Kisara saat ini sudah manis… tambah sedikit lagi, ya..?”

Uuu…”

Aku menyerah.

Seperti yang terlihat, inilah kelemahannya.

Suaranya saat ini, orange transparan— jujur dan serius.

Aku memberi asupan bagi synesthesia-nya.

Synesthesia yang idap oleh Kokone adalah “Lexical-gaustatory synesthesia”(suara menjadi rasa).

Baginya, segala jenis suara adalah makanan.

Suara apapun mampu merangsang indra perasanya.

Dengan kata lain, mendengar, baginya sama halnya dengan makan.

…Kokone”

Eeh~ suara barusan itu rasanya pahit~ Kau main-main dengan ku Kisara-chan?”

Menyipitkan mata birunya, suaranya naik sati oktaf.

Meski tanpa melihat warna merah yang muncul, sudah jelas kalau dia tidak senang.

Ka-kau tidak perlu marah dengan suara semerah itu! Bukannya biasanya kau makan suara ini juga!?”

Berbeda denganku, tidak ada suara yang dia suka ataupun tidak suka. Segala jenis suara dimakannya dengan lahap.

Sebagai perbandingan, Aku tidak nyaman mendengarkan sesuatu, kecuali suara dengan batas tertentu.

Seseorang dengan kesukaan akan suara dan seeorang yang lemah akan suara. Itulah kami berdua.

Suara normalnya Kisara itu pahit-pahit enak, suara hujan rasanya manis seperti sari apel, tapi… untuk sekarang aku ingin dengar suara Kisara-chan yang manis.”

Hujan rasanya sari apel… meski Aku membayangkan rasanya seperti air.”

Ki-sa-ra-cha-n??”

Aku bermaksud ganti topik untuk berlama-lama tapi ternyata tidak berhasil.

Warna yang aku rasakan dari suaranya sudah meninggalkan zona merah dan sudah tercampur dengan warna hitam.

Suara hitam, adalah hal yang paling aku benci.

Hiks…”

Ah… maaf Kisara-chan.”

Dasar kau rakus… bodoh…”

Ah… kata-kata kasarmu itu… manis getirnya nikmat sekali…”

…kau terburuk.”

Aku sangat ketakutan di sini sementara dia kegirasngan akan suaraku. Benar-benar terburuk.

Tapi, beginilah Kokone — ada keseimbangan, dan kami berudua bersama seperti ini.

Sifat rakusnya itu berbahaya.

Itulah kenapa keberadaanku penting.

Aku sangat tidak stabil.

Itulah kenapa keberadaannya penting.

Jeritan penuh rasa ingin membunuhpun akan dimakannya.

Ketika dia cenderung merasa — memiliki pikiran ‘ingin makan’, bisa-bisa dia menyakiti orang lain karena hal itu. Kokone selalu menuruti keinginannya, hal itu membuatnya semakin berbahaya.

Semantara itu Aku takut akan jeritan.

Suara yang penuh akan perasaan negatif selalu terlihat hitam pekat seperti warna dari dasar sumur.

Karena itulah Aku berlaku sebagai penahan Kokone, dan sebagai imbalannya, aku memperoleh suara transparanya yang penuh keinginan.

Saling bergantung — saling kebergantungan yang tidak normal.

Synesthesia — indra yang tidak normal.

Sonata — duet yang tidak normal.

“….♪”

Aku mendengar nyayian.

Sambil dipeluk erat oleh Kokone, Aku mendengar dia bergumam di dekat telingaku.

Nn.”

Nafasnya menghembus ditelingaku…

Haa…”

Dunia bergetar dengan gemerlapan.

Nyanyiannya menambah warna dunia ini.

Mengusir warna abu-abu, menutupinya secara keseluruhan.

Warna dunia ini bertambah, menjadi hidup.

Hn… Kokone”

Suaraku berwarna sakura dengan campuran biru.

Bukti bahwa ini adalah satu-satunya cara agar aku bisa tenang.

Warna yang membuat Kokone merasakan manis.

…♪”

Dengan rasa manis sebagai bahan bakar, gumamannya semakin keras, melepaskan warna-warna cerah.

Tempo dan vibrato-nya berubah, setiap kali ‘shakuri’ dan ‘kobushi’ berlangsung, pemandangan menjadi semakin cerah dan indah. Perubahan yang seperti sihir.

Lagi

Aku ingin melihat lebih banyak.

Nn, Kokone… lagi dong…”

Beri aku dunia yang indah ini lagi.

Isi hatiku dengan warna-warna.

Karena Aku juga akan memuaskan rasa laparmu.

Biarkan suaramu bergema sekali lagi.

Untuk mengusir warna hujan ini, teruslah bersenandung.

◇◆◇

Nn… Kokone, aku sudah baikan sekarang…”

Suara hujan masih terdengar.

Meski pemandangan air hujan yang mengenai jendela masih membawa perasaan depresi, kali sudah lebih baik.

Aku yakin di depan filter hitam putih ini, telah terhampar dunia yang indah.

Jadi aku mengangkat kepala, di dunia abu-abu ini, demi bertahan hidup.

Eeeh~ tapi Aku ingin sedikit lagi~”

Rambut dan renda bajunya bergoyang saat dia memiringkan kepalanya.

Gadis yang merepotkan ini benar-benar rakus.

Makan suara sih tidak masalah. Tapi kau juga harus makan makananmu dengan baik.”

Karena synesthesia hanyalah masukan sensorik.

Meski suara dapat memuaskan seleranya, tapi tidak bisa membuatnya kenyang apa lagi memberikan nutrisi.

Pada akhirnya, synesthesia-nya hanya hubungan antar indra.

Untuk terus hidup, dia harus tetap memakan makanan.

Keberadaanku juga untuk memastikan bahwa dia memakan makanan yang tidak pernah dia pedulikan.

Chee… Baiklah… Aku cukup memakan makananku kan?”

Yah. Aku tahu kalau kau tidak begitu suka makan… tapi kau harus tetap makan makanan, oke?”

Alasan Kokone tidak terlalu suka makan adalah karena suara saat makan. Mengunyah, menelan dan gesekan alat makan, gabungan suara yang bermacam-macm seperti itu juga menimbulkan rasa yang berbeda.

Bahkan ketika dia memakan coklat, suara saat mengunyahnya membuat rasanya berbeda karena synesthesia. Hal itu sepertinya membuat pikirannya kacau.

Meski begitu, dia mengiyakan kata-kataku.

Meski dengan enggan, dia menyetujuinya dengan anggukan kepala.

Inilah kenapa Aku bergerak untuknya.

Dalam dunia tanpa warna ini.

Nee… kau mau makan apa?”

Demi melihat warna suaranya yang hangat.

Hubungan timbal-balik yang tidak biasa.

Kami, bersama untuk saling berbagi suara.

◇◆◇

Kisara-chan, trelur dadar ini asin…”

Itu karena synesthesia. Memakan sesuatu merubah rasanya.”

Ueeh~ benarkah…?”

Benar. Benar-benar… uwa… apa-apaan rasa asin ini. Asin sekali”

Rasanya muncul! Sesuatu yang luar biasa muncul!!”

Sepertinya dunia yang Aku inginkan masih sangat jauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.